Berbunga-bunga
Pemerintah kita sangat pandai menyampaikan kabar buruk dengan wajah penuh senyum.
Beberapa waktu lalu, Lawrence Wong, Perdana Menteri Singapura, tampil di depan publik dan berkata sesuatu yang tidak biasa dari seorang pemimpin: keadaan akan buruk, dan itu akan berlangsung lama.
Ia bilang perlambatan ekonomi akibat perang dagang global bukan soal hujan sehari lalu besok cerah. Bukan rain today, sunshine tomorrow. Singapura akan kehilangan banyak lapangan kerja. Para lulusan baru akan kesulitan. Harga barang akan naik. Dan ia tahu banyak orang akan bilang ia menakut-nakuti. Tapi begitulah kenyataannya, katanya.
Saya membaca itu dan berpikir: betapa mewahnya kejujuran itu.
Di Sini, Keadaan Selalu Baik-baik Saja
Di Indonesia, pemerintah juga pandai berbicara di depan publik. Hanya saja dengan nada yang berbeda.
Bahan pangan cukup untuk Lebaran. Selalu cukup, setiap tahun, meski harga terus naik. Program Makan Bergizi Gratis mengalami kasus keracunan di sana-sini, tapi jangan khawatir, jumlahnya hanya sebagian kecil. Meski kalau dijumlah sudah ribuan orang. Dan tentu saja, kita sudah swasembada beras. Memang harganya naik, tapi itu soal lain.
Puncaknya adalah ketika BPS merilis angka pertumbuhan ekonomi yang terasa begitu asing dibandingkan apa yang orang rasakan di dompet mereka. Di satu sisi ada grafik yang naik. Di sisi lain ada antrian panjang pencari kerja dan daya beli yang terus tergerus.
Satu dari keduanya pasti salah. Tapi kita semua sudah tahu yang mana.
Berbunga-bunga Bukan Hanya di Jakarta
Setelah 15 tahun bekerja sebagai peneliti dan analis, saya sudah mengunjungi banyak pemerintah daerah di berbagai penjuru Indonesia.
Dan hampir semuanya membuka presentasi dengan cara yang sama: slide penuh warna, font tebal, dan agenda yang indah.
Program A sudah berjalan. Program B sedang dikembangkan. Program C dalam tahap finalisasi. Semua terlihat rapi di atas kertas. Semua seolah tinggal selangkah dari berhasil.
Lalu saya mulai wawancara. Satu per satu, bunga-bunga itu rontok.
"Anggarannya belum turun, Pak." "SDM kami terbatas." "Kondisi geografis kami berbeda dengan daerah lain." "Kami menunggu arahan lebih lanjut dari pusat."
Bukan berarti mereka tidak mau kerja. Banyak yang memang sungguh-sungguh. Tapi sistemnya sudah terlanjur membentuk satu kebiasaan: laporan harus bagus, terlepas dari kenyataan di lapangan.
Karena yang dievaluasi adalah laporannya, bukan hasilnya.
Kebohongan yang Kita Anggap Normal
Yang paling mengkhawatirkan bukan bahwa pemerintah berbohong. Yang mengkhawatirkan adalah kita sudah terbiasa dengan itu.
Anda mengurus surat di kelurahan. Petugasnya belum datang. Anda tunggu. Setengah hari hilang. Tidak ada penjelasan, tidak ada permintaan maaf.
Anda berobat pakai BPJS. Antri dari pagi. Selesai sore, kalau beruntung. Ini bukan kasus luar biasa. Ini pengalaman jutaan orang, setiap hari.
Tapi setiap tahun, laporan resminya bilang pelayanan publik semakin baik. Indeks kepuasan naik. Digitalisasi berjalan. Reformasi birokrasi sedang berlangsung.
Berlangsung sejak kapan, ya?
Harga dari Kata-kata Manis
Lawrence Wong memilih jujur karena ia tahu sesuatu yang sederhana: kepercayaan publik tidak dibangun dari kabar baik, tapi dari konsistensi antara kata dan kenyataan.
Kalau hari ini ia bilang semua baik-baik saja padahal tidak, maka ketika badai benar-benar datang, tidak ada yang akan percaya padanya. Dan orang-orang tidak akan siap.
Indonesia melakukan sebaliknya. Kita membeli ketenangan hari ini dengan cara meminjam kepercayaan. Dan kepercayaan itu sudah lama jatuh tempo.
Ketika data resmi tidak lagi bisa dipercaya, orang mulai mencari kebenarannya sendiri. Dari grup WhatsApp. Dari influencer. Dari kabar burung. Dan itu jauh lebih berbahaya dari sekadar berita buruk yang disampaikan pemerintah.
Singapura mungkin akan menghadapi masa sulit. Tapi setidaknya warganya tahu apa yang sedang mereka hadapi.Kita? Kita masih disuguhi bunga-bunga.
Dan bunga yang paling berbahaya adalah yang menutupi retakan di fondasi rumah.





0 Comments